Kelahiranku lebih cepat 2 minggu dari perkiraan. Perkiraan semula, hitung-hitungan oleh Ayah Bundaku, aku lahir di usia kandungan 42 minggu. Tapi memasuki usia 40 minggu aku sudah lahir. Sebuah usia kandungan normal, karena teorinya di usia 36 minggu sesungguhnya janin sudah siap untuk terlahir di dunia.
Persalinanku dengan cara normal di Klinik Bidan Junaida. Lokasinya sebelah utara pasar Olak Kemang di Kecamatan Danau Teluk Kota Jambi, jarak dari rumah kurang lebih 1 km. Untuk ukuran Jambi, Klinik ini sudah bagus.
Menjelang kelahiranku, ketegangan sempat melanda ayah bundaku. Karena ketika Bunda mulai kontraksi di tengah malam, Ayah masih di Jogja. Akhirnya Bunda ke Klinik diantar Uwak Bun (Kakak Bunda nomor 2) dan suaminya yaitu Uwak Mahmud Nawawi. Syukur Alhamdulillah, keluarga Bunda bisa disebut “KELUARGA SIAGA” alias Siap Antar jaGA menyambut kelahiranku. Sesampai di Klinikpun, Uwak-uwak secara bergilir menjaga Bunda.
Ayah sebenarnya sudah siaga sejak 1,5 bulan sebelumnya di Jambi. Tapi 5 hari sebelum kelahiranku ada panggilan kerja di Jogja. Yaitu dari proyek REKOMPAK-JRF, atau “Rehabilitasi dan Rekonstruksi Masyarakat dan Pemukiman Berbasis Masyarakat dari Java Reconstruction Fund”. Sebuah proyek kemanusiaan membantu masyarakat Bantul dan Klaten pasca Gempa dahsyat yang juga meluluhlantakkan pemukiman penduduk disana.
Begitu Bunda kontraksi, Ayah langsung di telpon. Saat itu jam 00.30 tengah malam. Saat itu Ayah langsung cari tiket pesawat terbang dengan menelpon agen ticketing. Berhubung tengah malam, tentu sudah pada tutup. Dengan bantuan Pak Iful (adik bungsu ayah) yang mempunyai jaringan cukup luas, karena saat itu Pak Iful jadi Presiden Lembaga Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (LEM FIB) UGM. Akhirnya Ayah dapat tiket pesawat dengan harga murah. Teknologi sangat membantu, karena ticketing pesawat sudah on-line sehingga dapat dilakukan dimana saja dan kapan saja.
Ayah terbang dari Bandara Adisucipto Jogja jam 09.15 WIB dengan pesawat Batavia Air. Sejam kemudian sudah sampai di Bandara internasional Sukarno Hatta Jakarta. Lalu, pindah terminal untuk Boarding Pesawat Adam Air yang terbang ke Jambi pukul 13.30 WIB. Sampai Bandara Sultan Thaha Jambi jam 14.30. Lalu, Dari Bandara ayah nyambung dengan angkot menuju terminal. Dari terminal naik ojek ke pangkalan ketek (perahu tempel) di belakang pasar Angso Duo. Dari Angso Duo naik ketek menyeberang sungai Batanghari, lalu turun di Pangkalan Kampung Jelmu. Jam 15.30 Ayah akhirnya tiba di rumah.
Dirumah Ayah sempat mandi. Lalu bergegas menuju Klinik. Di Klinik sudah ada Wak Buluran, Wak Cik, Wak Do Madi dan keluarga lain. “Nha ini ayahnya datang”, kata mereka gembira. Bundapun cukup lega, karena maunya kelahiranku ditungguin Ayah. Sehingga begitu lahir Ayah sendiri yang mengadzani di telinga kananku dan iqomat di telinga kiriku.
Setelah 18 jam, karena Jarak antar bukaan hingga bukaan 9, adalah 2 jam, Bunda merasakan sakit luar biasa dan ketegangan yang dirasakan oleh keluarga. Akhirnya aku lahir dengan selamat.
Aku lahir pada Selasa, 17 Juli 2007 pukul 20.10 WIB. Sebuah susunan angka cantik dan mudah diingat, bisa disingkat 17-07-07 jam 10.10 malam.